Kamis, 21 November 2013

Hati Yang Lapang

Bila Diri Sempit Hati

Semoga ALLAH SWT senantiasa memberikan kepada kita hati yang lapang yang jernih karena ternyata berat sekali menghadapi hidup dengan hati yang sempit.

Hati yang lapang dapat diibaratkan sebuah lapangan yang luas membentang walaupun ada anjing ada ular ada kalajengking dan ada aneka binatang buas lain pastilah lapangan akan tetap luas. 

Aneka binatang buas yang ada malah makin nampak kecil dibandingkan dengan luas lapangan. Sebaliknya hati yang sempit dapat diibaratkan ketika kita berada di sebuah kamar mandi yang sempit baru berdua dengan tikus saja pasti jadi masalah. Belum lagi jika dimasukkan anjing singa atau harimau yang sedang lapar pastilah akan lebih bermasalah lagi. 

Entah mengapa kita sering terjebak dalam pikiran yang membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tak nyaman yang membuat pikiran kita menjadi keruh penuh rencana-rencana buruk. Waktu demi waktu yang dilalui sering kali diwarnai kondisi hati yang mendidih bergolak penuh ketidaksukaan terkadang kebencian bahkan lagi dendam kesumat.

Capek rasanya. Menjelang tidur otak berpikir keras menyusun rencana bagaimana memuntahkan kebencian dan kedendaman yang ada di lubuk hati agar habis tandas terpuaskan kepada yang dibencinya. Hari-hari adalah hari uring-uringan makan tak enak tidur tak nyenyak dikarenakan seluruh konsentrasi dan energi difokuskan untuk memuaskan rasa benci ini. 

Ah sahabat. Sungguh alangkah menderita orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hati. Dia akan mudah sekali tersinggung dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tak termaafkan kecuali sudah terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggung menderita sengsara atau tak berdaya. 

Seringkali kita dengar orang-orang yang dililit derita akibat rasa bencinya. Padahal ternyata yang dicontohkan para rosul para nabi para ulama yang ikhlas orang-orang yang berjiwa besar bukanlah mencontohkan mendendam membenci atau busuk hati. Yang dicontohkan mereka justru pribadi-pribadi yang berdiri kokoh bagai tembok tegar sama sekali tidak terpancing oleh caci maki cemo'oh benci dendam dan perilaku-perilaku rendah lainnya.

Sungguh pribadi bagai pohon yang akar menghunjam ke dalam tanah begitu kokoh dan kuat hingga diterpa badai dan diterjang topan sekalipun tetap mantap tak bergeming. 

Tapi orang-orang yang lemah hanya dengan perkara-perkara remeh sekalipun sudah panik amarah membara dan dendam kesumat. Walaupun non muslim kita bisa mengambil pelajaran dari Abraham Lincoln . Dia bila memilih pejabat tak pernah memusingkan kalau pejabat yang dipilih itu suka atau tak pada diri yang dia pikirkan adalah apakah pejabat itu bisa melaksanakan tugas dengan baik atau tidak.

Beberapa orang kawan dan lawan politik tentu saja memanfaatkan moment ini untuk menghina mencela dan bahkan menjatuhkan tapi ia terus tak bergeming bahkan berkata dengan arif “Kita ini adalah anak-anak dari keadaan walau kita berbuat kebaikan bagaimanapun juga tetap saja akan ada orang yang mencela dan menghina. 

Karena pencelaan penghinaan bukan selama karena kita ini tercela atau terhina. Pastilah dalam kehidupan ini ada saja manusia yang suka menghina dan mencela”.

Jadi ia tak pusing dengann hinaan dan celaan orang lain. Nabi Muhammad SAW manusia yang sempurna tetap saja pernah dihina dicela dan dilecehkan. Bagaimana mungkin model kita ini tak ada yang menghina ? Padahal kita ini hina betulan. 

Ingatlah bahwa hidup kita di dunia ini hanya satu kali sebentar dan belum tentu panjang umur amat rugi jikalau kita tak bisa menjaga suasana hati ini. Camkanlah bahwa kekayaan yang paling mahal dalam mengarungi kehidupan ini adalah suasana hati kita ini. 

Walaupun rumah kita sempit tapi kalau hati kita ‘plooong’ lapang akan terasa luas. Walaupun tubuh kita sakit tapi kalau hati kita ceria sehat akan terasa enak. 
Walaupun badan kita lemes tapi kalau hati kita tegar akan terasa mantap. 
Walaupun mobil kita merek murahan motor kita model sederhana tapi kalau hati kita indah akan tetap terhormat. 
Walaupun kulit kita kehitam-hitaman tapi kalau batinnya jelita akan tetap mulia. 

Sebaliknya,
Apa arti rumah yang lapang kalau hati sempit?! 
Apa arti Fried Chicken Burger Hoka-hoka Bento dan segala makanan enak lain kalau hati sedang membara ?! 
Apa artinya raungan ber-AC kalau hati mendidih ?! 
Apa arti mobil BMW kalau hatinya bangsat ?!

Lalu bagaimana cara kita mengatasi perasaan-perasaan seperti ini ? 

Yang pertama 

harus kita kondisikan dalam hati ini adalah kita harus sangat siap untuk terkecewakan karena hidup ini tak akan selama sesuai dengan keinginan kita. 

hati kita harus siap oleh situasi dan kondisi apapun tak boleh kita hanya siap dengan situasi yang enak saja. 

Kita harus sangat siap dengan situasi dan kondisi sesulit sepahit dan setak enak apapun. 

Seperti pepatah mengatakan sedia payung sebelum hujan. Artinya hujan atau tak hujan kita siap. 

Hal kedua 

yang harus kita lakukan kalau toh ada orang yang mengecewakan kita adalah dengan jangan terlalu ambil pusing sebab kita akan jadi rugi oleh pikiran kita sendiri. Sudah lupakan saja. 

Yang membagikan rizki adalah ALLAH
Yang mengangkat derajat adalahALLAH 
Yang menghinakan juga ALLAH. 
Apa perlu kita pusing dengan omongan orang sampai ‘doer’ itu bibir menghina kita sungguh tak akan kurang permberian ALLAH kepada kita. 

Mati-matian ia menghina yakinlah kita tak akan hina dengan penghinaan orang. Kita itu hina karena kelakuan hina kita sendiri.

Nabi SAW dihina tapi toh tetap cemerlang bagai intan mutiara. Sedangkan yang menghina Abu Jahal sengsara. Salman Rushdie ngumpet tak bisa kemana-mana Permadi Arswendo Atmowiloto masuk penjara. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. 

Dikisahkan ketika Nabi Isa as dihina ia tetap senyum tenang dan mantap tak sedikitpun ia menjawab atau membalas dengan kata-kata kotor mengiris tajam seperti yang diucapkan si penghinanya. Ketika ditanya oleh sahabat-sahabat “Ya Rabi kenapa engkau tak menjawab dengan kata-kata yang sama ketika engkau dihina malah Baginda menjawab dengan kebaikan ?” Nabi Isa as menjawab : “Karena tiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya. Kalau kita memiliki keburukan maka yang kita nafkahkan adalah keburukan kalau yang kita miliki kemuliaan maka yang kita nafkahkan juga kata-kata yang mulia.” 

Sungguh seseorang itu akan menafkahkan apa-apa yang dimilikinya. Ketika Ahnaf bin Qais dimaki-maki seseorang menjelang masuk ke kampung “Hai kamu bodoh gila kurang ajar!” Ahnaf bin Qais malah menjawab “Sudah ? Masih ada yang lain yang akan disampaikan ? Sebentar lagi saya masuk ke kampung Saya kalau nanti di dengar oleh orang-orang sekampung mungkin nanti mereka akan dan mengeroyokmu. Ayo kalau masih ada yang disampaikan sampaikanlah sekarang !”. 

Dikisahkan pula di zaman sahabat ada seseorang yang marah-marah kepada seorang sahabat nabi “Silahkan kalau kamu ngomong lima patah kata saya akan jawab dgn 10 patah kata. Kamu ngomong satu kalimat saya akan ngomong sepuluh kalimat”. Lalu dijawab dengan mantap oleh sahabat ini “Kalau engkau ngomong sepuluh kata saya tak akan ngomong satu patah kata pun”. 

Oleh karena itu jangan ambil pusing janga dipikirin. Dale Carnegie dalam sebuah buku mengisahkan tentang seekor beruang kutup yang ganas sekali selalu main pukul ada pohon kecil dicerabut tumbang dan dihancurkan. Di tengah amukan tiba-tiba ada ada seekor binatang kecil yang lewat di depannya. Aneh tak ia hantam sehingga mungkin terlintas dalam benak si beruang ini “Ah apa perlu menghantam yang kecil-kecil yang tak sebanding yang tak merugikan kepentingan kita”. 

Percayalah makin mudah kita tersinggung apalagi hanya dengan hal-hal yang sepele akan makin sengsara hidup ini. Padahal mau apa hidup pakai sengsara karena justru kita harus menjadikan orang-orang yang menyakiti kita sebagai ladang amal karena kalau tak ada yang menghina menganiaya atau menyakiti kapan kita bisa memaafkan ? 

Nah sahabat. Justru karena ada lawan ada yang menghina ada yang menyakiti kita bisa memaafkan. 

Kalau dia masih muda anggap saja mungkin dia belum tahu bagaimana bersikap kepada yang tua daripada sebel kepadanya. 

Kalau dia masih kanak-kanak pahami bahwa tata nilai kita dengan dia berbeda mana mungkin kita tersinggung oleh anak kecil. Kalau ada orang tua yang memarahi kita jangan tersinggung mungkin dia khilaf karena terlalu tuanya. 

Yang pasti makin kita pema'af makin kita berhati lapang makin bisa memahami orang lain maka akan makin aman dan tenteramlah hidup kita ini subhanallah. 

sumber : file chm bundel Tausyiah Manajemen Qolbu Aa Gym

0 komentar:

Posting Komentar