Minggu, 17 November 2013

Ibu Dan Menantu

Seorang Ibu dan Menantu Shalehah

Seorang ibu dengan mata berbinar-binar bertutur kepada menantu wanitanya yang baru saja menjalani masa-masa indah bulan madu:
“Ananda, engkau telah mampu menjadikan anak lelakiku sebagai orang yang rutin menunaikan sholat di masjid.

Engkau berhasil melakukannya dalam waktu 30 hari saja.

Namun aku tak berhasil melakukan hal yang sama dalam rentang waktu 30 tahun.”

Buliran air mata sang ibu pun mengalir sejuk menulusuri dan membasahi pipinya.

Menantu shalehah itu pun berujar:

“Wahai ibunda, apakah bunda pernah mendengar kisah sebuah batu besar dan harta karun?”

“Dikisahkan,” lanjut sang menantu,

“bahwa ada sebuah batu besar yang menghalangi jalan umum para penduduk.
Datanglah seorang pemuda ingin menyingkirkannya dengan cara memecahkannya.

Dengan sebuah kapak pemecah batu dia berusaha melakukannya hingga tibalah pada pukulan dan hentakan ke-99.

Ia pun menyerah dan beristirahat. Lalu datanglah pemuda lain untuk membantunya.

Sepakatlah keduanya untuk bekerja sama hingga batu tersebut pecah menjadi beberapa keping tepat pada pukulan ke-100.

Ternyata di bawahnya terdapat lubang yang menampung harta karun berupa emas. Karena keduanya memperebutkan harta karun tersebut, keduanya pun menemui seorang hakim untuk menyelesaikan urusan ini.

Pemuda pertama berkata kepada sang hakim:

“Berikanlah aku sebagian besar harta karun ini. Aku telah berusaha memecahkan batu besar hingga pukulan ke-99 hingga aku beristirahat.”

Pemuda kedua menuturkan tak mau kalah:

“Semuanya untukku. Karena akulah batu itu terpecahkan.”

Sang hakim yang arif lagi bijak itu pun berujar kepada pemuda pertama:

“Ini untukmu 99 bagian harta karun. Kalau tak ada 1 pukulan terakhir maka batu tak akan pecah.”

Kepada pemuda kedua, beliau menuturkan:

“Ini untukmu satu bagian hartu karun. Kalau tak ada 99 pukulan pertama maka batu tak akan pecah.””

Setelah mengisahkan ini, sang menantu shalehah tersebut kembali berujar:

“Bunda, betapa banyak upaya yang telah bunda lakukan dan usahakan namun belum berhasil seutuhnya.

Allah menghendaki bahwa orang lain lah yang menyempurnakan apa yang bunda awali.

(Kalau bukan karena Allah) lalu apa yang bunda awali pertama kali beberapa tahun lalu maka tak sempurna apa yang bunda lihat kini.”

Fachrian Almer Akiera
 



Catatan penerjemah:
Kisah singkat ini kami terjemahkan dari sebuah page berbahasa arab:

“Man Kaana Akhir Kalaamih Laa Ila Ha-illalah Dakhala al-Jannah 2”

Ibu mana yang tak senang melihat anaknya menjadi lelaki taat, terlebih lagi menjadi lelaki masjid.

Usahanya untuk men-shalehkan sang anak yang telah berlangsung selama 30 tahun lamanya kini membuahkan hasil setelah kedatangan anggota keluarga baru yang merupakan menantunya.

Rona kebahagiaan setelah anaknya menikah semakin berbinar setelah ia, anaknya itu, menjadi lelaki menawan dengan ketakwaannya.

Bahagia, bahagia dan bahagia hingga ekspresi kebahagiaan ini ia bagi dengan cara mengungkapkannya kepada sang menantu:

“Engkau telah berhasil selama 30 hari saja. . .”

Dan menantunya itu, sebagai wanita shalehah lagi jelita berakhlak, paham bahwa perubahan suaminya bukan semata karena ia sendiri namun jua adalah jeri payah bertahun-tahun dari mertuanya, ibu dari suaminya.

Ia hanya menyempurnakan. Inilah kerendahan hati itu. Betapa bahagianya menjadi istri yang mertuanya seperti beliau. Betapa bahagianya seorang mertua yang menantunya seperti dia: wanita yang shahih ilmu dan amalnya, lagi jelita akhlaknya.
 

____________________________________________
Asrama LIPIA Jakarta

0 komentar:

Posting Komentar