Selasa, 19 November 2013

Si Pemuda

Kisah yang Menakjubkan: "Buah dari Menundukkan Pandangan, Meninggalkan Makanan Haram, Serta Taubat!
 
Di Damaskus, ada sebuah mesjid besar, namanya mesjid Jami’ At-Taubah. Dia adalah sebuah masjid yang penuh keberkahan. Di dalamnya ada ketenangan dan keindahan.

Sejak tujuh puluh tahun, di masjid itu ada seorang syaikh pendidik yang alim dan mengamalkan ilmunya. Dia sangat fakir sehingga menjadi contoh dalam kefakirannya, dalam menahan diri dari meminta, dalam kemuliaan jiwanya dan dalam berkhidmat untuk kepentingan orang lain.

Saat itu ada pemuda yang bertempat di sebuah kamar dalam masjid Sudah dua hari berlalu tanpa ada makanan yang dapat dimakannya. Dia tidak mempunyai makanana ataupun uang untuk membeli makanan. 

Saat datang hari ketiga dia merasa bahwa dia akan mati, lalu dia berfikir tentang apa yang akan dilakukan Menurutnya, saat ini dia telah sampai pada kondisi terpaksa yang membolehkannya memakan bangkai atau mencuri sekadar untuk bisa menegakkan tulang punggungnya. Itulah pendapatnya pada kondisi semacam ini.

Masjid tempat dia tinggal itu, atapnya bersambung dengan atap beberapa rumah yang ada disampingnya. Hal ini memungkinkan sesorang pindah dari rumah pertama sampai terakhir dengan berjalan diatas atap rumah-rumah tersebut Maka, dia pun naik ke atas atap masjid dan dari situ dia pindah kerumah sebelah. 

Di situ dia melihat orang-orang wanita maka dia memalingkan pandangannya dan menjauh dari rumah itu. 

Lalu dia lihat rumah yang di sebelahnya lagi Keadaannya sedang sepi dan dia mencium ada bau masakan berasal dari rumah itu. Rasa laparnya bangkit, seolah-olah bau masakan tersebut magnet yang menariknya.

Rumah-rumah dimasa itu banyak dibangun dengan satu lantai, maka dia melompat dari atap ke dalam serambi. Dalam sekejap dia sudah berada di dalam rumah dan dengan cepat dia masuk ke dapur lalu mengangkat tutup panci yang ada disitu Dilihatnya sebuah terong besar dan sudah dimasak. Lalu dia ambil satu, karena rasa laparnya dia tidak lagi merasakan panasnya, digigitlah terong yang ada ditangannya dan saat itu dia mengunyah dan hendak menelannya, dia ingat dan timbul lagi kesadaran beragamanya Langsung dia berkata, ‘A’uudzu billah! Aku adalah penuntut ilmu dan tinggal di mesjid , pantaskah aku masuk kerumah orang dan mencuri barang yang ada di dalamnya?’ Dia merasa bahwa ini adalah kesalahn besar, lalu dia menyesal dan beristigfar kepada Allah, kemudian mengembalikan lagi terong yang ada ditangannya Akhirnya dia pulang kembali ketempat semula. Lalu ia masuk kedalam masjid dan mendengarkan syaikh yang saat itu sedang mengajar. Karena terlalu lapar dia tidak dapat memahami apa yang dia dengar.

Ketika majlis itu selesai dan orang-orang sudah pulang, datanglah seorang perempuan yang menutup tubuhnya dengan hijab -saat itu memang tidak ada perempuan kecuali dia memakai hijab-, kemudian perempuan itu berbicara dengan syaikh. Sang pemuda tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakannya. Akan tetapi, secara tiba-tiba syaikh itu melihat ke sekelilingnya. Tak tampak olehnya kecuali pemuda itu Maka dipanggilah ia dan syaikh itu bertanya, ‘Apakah kamu sudah menikah?’, dijawab, ‘Belum,’. 

Syaikh itu bertanya lagi, ‘Apakah kau ingin menikah?’. Pemuda itu diam. Syaikh mengulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya pemuda itu angkat bicara, ‘Ya Syaikh, demi Allah! Aku tidak punya uang untuk membeli roti, bagaimana aku akan menikah?’. 

Syaikh itu menjawab, ‘Wanita ini datang membawa khabar, bahwa suaminya telah meninggal dan dia adalah orang asing di kota ini. Di sini bahkan di dunia ini dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang paman yang sudah tua dan miskin’, kata syaikh itu sambil menunjuk seorang laki-laki yang duduk di pojokkan. 

Syaikh itu melanjutkan pembicaraannya, ‘Dan wanita ini telah mewarisi rumah suaminya dan hasil penghidupannya. Sekarang, dia ingin seorang laki-laki yang mau menikahinya, agar dia tidak sendirian dan mungkin diganggu orang. Maukah kau menikah dengannya?’ Pemuda itu menjawab ‘Ya’. 

Kemudian Syaikh bertanya kepada wanita itu, ‘Apakah engkau mau menerimanya sebagai suamimu?’, ia menjawab ‘Ya’. 

Maka Syaikh itu mendatangkan pamannya dan dua orang saksi kemudian melangsungkan akad nikah dan membayarkan mahar untuk muridnya itu. 

Kemudian syaikh itu berkata, ‘peganglah tangan isterimu!’ Dipeganglah tangan isterinya dan sang isteri membawanya kerumahnya…. Setelah keduanya masuk kedalam rumah, sang isteri membuka kain yang menutupi wajahnya. Tampaklah oleh pemuda itu, bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda dan cantik. Dan rupanya pemuda itu sadar bahwa rumah itu adalah rumah yang tadi telah ia masuki.

Sang isteri bertanya, ‘Kau ingin makan?’ ‘Ya’ jawabnya. Lalu dia membuka tutup panci didapurnya. Saat melihat buah terong didalamnya dia berkata: ‘heran siapa yang masuk kerumah dan menggigit terong ini?!’ Maka pemuda itu menangis dan menceritakan kisahnya. 

Isterinya berkomentar, ‘Ini adalah buah dari sifat amanah, kau jaga kehormatanmu dan kau tinggalkan terong yang haram itu, lalu Allah berikan rumah ini semuanya berikut pemiliknya dalam keadaan halal. Barang siapa yang meninggalkan sesuatu ikhlas karena Allah, maka akan Allah ganti dengan yang lebih baik dari itu.’ (Diceritakan oleh : Syaikh Ali Ath-thanthawiy, Sumber: Sunnah Salaf)

Ibrah

Pemuda tersebut menundukkan pandangannya, maka Allah memberinya istri (yang ia tundukkan pandangannya terhadapnya karenaNya)  Pemuda tersebut meninggalkan makanan yang haram dimakannya, maka Allah memberinya makanan (yang ditinggalkannya karena Allah) Pemuda tersebut bertaubat dari niatnya untuk mencuri, juga bertaubat dari memakan makanan yang haram… maka Allah memberikannya rumah, makanan dan istri yang shalihah Sifat lelaki diatas adalah sifat orang yang bertaqwa, sebagaimana Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang (yang bertaqwa itu adalah) yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, (lantas) mereka (sadar dan) ingat akan Allah, maka (mereka) memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka… dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.(Aali ‘Imraan: 135)

Sedangkan Allah berfirman terhadap orang yang bertaqwa:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya (ath Thalaaq: 2-3)

Rasuulullaah bersabda:

إِنَّكَ لاَ تَدَعُ شَيْئًا إتِّقَاءً للهِ تَعَالَى إِلاَّ أَعَطَاكَ الله عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهُ

“Sesungguhnya tidaklah engkau tinggalkan sesuatu karena takut kepada Allah, kecuali Allah memberimu yang lebih baik daripadanya.” (HR. Ahmad, 5/363,, Al-Baihaqi, 5/335, Waki’ dalam Az-Zuhd serta Al-Qadha’i dalam Musnad-nya; dishahiihkan syaikh muqbil dalam shahiihul musnad)

Berkata Ubay ibn Ka’ab radhiyallaahu ‘anhu:

“Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah kecuali Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya dari arah yang tiada disangka-sangkanya. 

Dan tidaklah seorang hamba menganggap remeh hal yang diharamkan, sehingga ia mengambil yang tidak baik kecuali Allah memberinya sesuatu yang lebih berat daripadanya”
(Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd, 2/635; Hanad, no.851; Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 1/253, dan sanad-nya laba’sa’bih, tidak mengapa).

Abdullah ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaa berkata:

“Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah, tidak ia tinggalkan kecuali karena-Nya, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih baik daripada-Nya dalam hal agama maupun dunianya.” (Dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 2/196). 

Seorang tabi’in yang mulia, Qatadah bin Da’amah As-Sadusi berkata,“Tidaklah seseorang mampu dan berkesempatan melakukan yang haram kemudian dia meninggalkannya semata-mata karena takut kepada Allah, kecuali Allah menyegerakan gantinya di dunia, sebelum kelak di akhirat dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya”.

0 komentar:

Posting Komentar