Minggu, 08 Desember 2013

Proposal Cinta UntukNya

Kehormatan
“Saya menyangsikan kalimat plesetan ‘takkan lari jodoh dikejar’. Gunung memang tidak akan lari. Tapi jodoh? Dia punya kaki dan keinginan, dia bisa berlari-lari kesana-kemari. kemana dia suka. Bahkan dia bisa hilang, seperti lenyap ditelan bumi. Atau dia jatuh ketangan orang lain”—Ahmad Fuadi


Proposal Cinta UntukNya, aku pernah menuliskan hal itu dalam lembar sederhana ini. Hikmah akan selalu ada dalam setiap kejadian. Bahkan ketika apapun yang terjadi membuat kita tak sadar atau malah makin terbenam dalam jurang hawa nafsu. Sesungguhnya itu adalah petaka yang paling menyedihkan.


Dalam awal baris di atas, aku menuliskan tentang “Proposal Cinta UntukNya” sebuah judul tulisan yang memang menjawab kepada siapapun yang ingin segera menyempurnakan agamanya. Penantian itu tidak hanya datang oleh kaum hawa, namun sejatinya seorang pria yang berani menjaga kehormatannya pun berlaku sama, hingga akhirnya segala kepasrahan akan bersandar pada Rabb Yang Maha Membolak-balikkan hati.

Yah, perihal kehormatan yang sebenarnya adalah sebuah nilai mutlak yang dimiliki seorang muslim. Para penjaga kehormatan itu lebih menyibukkan dirinya untuk memperbaiki diri hingga yang baik tentu akan mempersembahkan kebaikan kepada yang baik yang telah dipilih dan dikehendaki olehNya.

Lantas, kini perlahan kehormatan itu sirna dari bumi yang mayoritas muslim ini. Hal-hal yang sebetulnya merusak kehormatan itu sendiri kini menjadi gaya hidup dan menjadi hal wajib bagi mereka yang terlanjur cinta dunia, bahkan terkadang yakin bahwa lima belas menit lagi masih hidup.

Sementara, mereka yang menjaga kehormatan mengalami cerita dengan sebutan “Demonology” yang aneh dari dunia modern. Mereka yang ikhlas menjaga kehormatannya akan dicap konvensional, kolot, atau bahkan fundamentalis. 

Wajar saja, pada negeri yang indah ini, hanya ramai mengaggungkan kalimatNya pada awal ramadhan saja, menjadi muslim dan mengenakan atribut muslim pada akhir ramadhan saja, bahkan ada yang memasuki masjid tatkala pembagian hewan kurban saja, atau bahkan hanya ketika akad nikah saja. Well, kehormatan yang hanya tertulis di buku nikah atau identitas kartu penduduk.

Aku akan mencoba menjabarkan, bahwa kehormatan itu tidak hanya milik wanita hingga ia menyempurnakan agamanya. Namun, seorang pria yang menjaga kehormatannya, menyibukkan dirinya dengan kepentingan akhirat, juga memiliki hak itu. Sebab kini, dalam opini yang berkembang. Bahwa wanita tersudutkan oleh poin kehormatan. Padahal, kehormatan itu juga menuntut seorang pria yang belum menyempurnakan agamanya untuk senantiasa menjaga kehormatannya dimata Allah.

Kini, aku ingin mengubah pola pikir bahwa hanya wanita saja yang wajib menjaga kehormatannya. Seorang pria, tatkala mengaku sebagai muslim, sungguh beruntung apabila mampu menjaga kehormatannya sendiri dimata Allah. Bukankah sungguh spesial hal ini? Menjadi nahkoda bagi dirinya sendiri, hingga tak mudah berlabuh kesembarang pulau, padahal pulau tersebut merupakan pulau terlarang yang belum boleh dijamah tanpa persetujuan pemiliknya.

Diibaratkan dalam lembar episode, bahwa apa yang ada di semesta ini adalah milik Allah. Dan Allah telah memudahkan kita untuk menikmati Alam semesta dan isinya, tentu dengan syariatNya, aturan-aturanNya. Wahai penulis, engkau menganggap apa yang dipikirkan dirimu bisa diterima oleh kami semuanya, ini bukan negara islam, sehingga engkau terus saja menulis perihal-perihal islam yang berderet rapi dalam untaian kalimat-kalimat penghakiman!

Duhai para pembaca, memang bukan negara islam, tapi juga bukan negara setan! Konsekuensi menjadi seorang muslim bahkan apakah seperti indahnya senja yang berganti menjadi gelap kemudian menjemput malam pada rona rembulan yang mempesona tidak membuat diri kita sadar? Bagaimana itu bisa terjadi dan bagaimana hingga gunung yang meletus meletup-letup memancarkan pijaran lava yang panasnya luar biasa? Dan korelasi ayat-ayat perihal panasnya api dunia yang tak sebanding dengan api yang ada sesuadah kehidupan ini?

Lantas adakah dalam pikiran kita berpikir, kenapa kita bisa mencintai, rasa suka, rasa benci, hingga rasa berharap itu ada? Kemana kita berharap? Bahkan seseorang yang mengaku tak berTuhan atau atheis itu sendiri akan kehilangan gelar atheisnya, tatkala berkata “Semoga: bersemoga kepada siapa? Siapa yang akan mengabulkan? Keberuntungan? Bagaiaman keberuntungan itu hadir? Sial? Bukankah apa yang kita lakukan itu yang akan kita tuai?

Dan aku menganggap wajar, tatkala beropini, bahwa orang-orang yang menjaga kehormatannya demi ridho RabbNya, berharap, dan bersemoga kepada RabbNya, agar selalu diberikan kebaikan pada diriNya, baik perihal rizki, kesehatan, dan juga cinta.

Sesuai dengan firmanNya, yang baik akan mendapat yang baik, dan yang buruk akan mendapat yang buruk. Begitulah indahnya, sebuah konsekuensi, untuk menjadi lebih baik, agar anugerah kebaikan akan datang melalui usaha dan pinta kepada Dia, yang tidak ada sesembahan selainnya, Allah Ta’ala.


0 komentar:

Posting Komentar