Kamis, 19 Desember 2013

Buah Pepaya

Belajar Sabar Dari Buah Pepaya

Buah pepaya dari kebun itu telah memberikan pelajaran kepada saya tentang makna kesabaran. Percayalah bahwa bersabar di dalam kehidupan itu tidak akan sia-sia, pada akhirnya kesabaran itu akan berbuah kebahagiaan............


Saya mempunyai kebun kecil di depan rumah yang saya tanami dengan berbagai tanaman seperti kembang dan buah-buahan. Salah satu pohon buah yang tumbuh besar adalah pohon pepaya. Pembantu di rumah yang menanamnya dulu dari biji buah pepaya yang diperoleh dari tetangga sebelah. 

Saya merawat pohon pepaya itu hingga suatu hari ia mengeluarkan bunga. Melalui penyerbukan oleh alam, bunga-bunga pepaya itu berubah menjadi putik. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, putik-putik itu satu per satu gugur karena mandek berkembang menjadi buah. Alam telah melakukan seleksi terhadap berbagai putik itu, tidak semuanya tumbuh menjadi buah pepaya. Andai saja semua putik berkembang menjadi buah, pastilah tidak mampu pohon pepaya itu menahan beban berat buah-buah yang nanti akan bergelayut di batangnya. Alam telah menemukan caranya sendiri untuk tumbuh dan berkembang sesuai sunnatullah yang sudah ditetapkan kepadanya.

Tidak semua putik itu gugur dan mandek, pohon pepaya tersebut menyisakan satu putik yang tumbuh normal. Perhatian saya dalam satu dua bulan ini terbetot pada pohon pepaya yang berbuah tunggal itu. 

Lambat laun buah pepaya di pohon bertambah besar ukurannya. Hujan yang turun, angin yang berhembus, cahaya mentari yang menyinari, telah membuat buahnya semakin lama semakin menuju kematangan. Saya memperhatikan pertumbuhan buah itu hampir setiap hari setiap akan pergi ke kantor. 

Minggu lalu buah pepaya itu sudah mencapai ukuran maksimalnya, terlihat sebersit warna kuning muncul dari kulitnya. Itu pertanda ia akan menuju tahap kematangan. Namun saya menahan diri untuk tidak memetiknya. Kalau saya mau tentu saya petik saja daripada nanti dicuri orang. Tetapi, kalau saya petik sekarang, rasanya belum tentu manis. Bisa saja saya petik lalu saya peram beberapa hari agar matang, namun saya tidak melakukannya. Buah yang diperam tidak semanis matang di pohon. Yang alami lebih bernilai daripada yang direkayasa.

Hari-hari berlalu dan warna kuningnya semakin banyak terlihat. Hijau berganti kuning, kuning semakin kuning. Ah… tunggulah beberapa hari lagi, kata saya dalam hati. Kalau ingin mendapat hasil terbaik, bersabarlah untuk menunggu. Banyak orang yang ingin memperoleh kesuksesan dengan cara-cara yang instan, namun dunia telah memberikan pelajaran bahwa hasil yang instan itu tidak akan bertahan lama dan tidak memberi kenikmatan. Cepat sukses, cepat pula hilangnya. Hanya orang-orang yang menapak kesuksesan dari bawah dengan cucur keringat perjuangan yang akan menikmati kebahagiaan yang panjang.

Kesabaran saya menunggu buah pepaya matang sempurna akhirnya mencapai perhentian kemarin. Kulit buah pepaya sudah telihat kuning semua, pertanda ia sudah mencapai titik tertinggi kematangan. Saya pun memetiknya dan menaruhnya di atas meja makan agar anak-anak dapat melihatnya.  

Saya belah buah pepaya itu. Hmmm… warna daging buahnya oranye kemerahan, menimbulkan selera bagi siapa saja yang melihatnya. Saya cicipi rasa buahnya, alhamdulillah… manis sekali. Inilah rezeki dan nikmat dari Sang Pencipta, Allah SWT. Buah dari kebun sendiri lebih nikmat daripada buah yang dibeli. Begitu pula dalam hidup ini, hasil yang diperoleh dari jerih payah sendiri lebih bernas dan memberi kenikmatan daripada yang diperoleh dari kerja orang lain.

Saya tidak ingin menikmati buah pepaya itu sendiri. Saya berikan setengah kepada tetangga yang dulu memberikan buah pepaya yang kemudian bijinya ditanam oleh pembantu di rumah. Kalau kita mendapat rezeki dan kenikmatan dari Ilahi, hendaklah kenikmatan itu kita bagi dengan orang lain. 

Kebahagiaan tidak untuk diri sendiri, tetapi untuk bersama-sama. Kalau kita memperoleh keberhasilan di dalam hidup ini, ingatlah siapa saja yang pernah berjasa memberikan bantuan, sekecil apapun itu dan dalam wujud apapun, minimal berupa doa. Janganlah kita seperti kacang yang lupa dengan kulitnya.  

 


 

0 komentar:

Posting Komentar